Kamis, 11 Desember 2008

Mengapa Kita Melakukan Flirting?

by Netsains.com

Daya tarik seorang individu, ditentukan oleh bagaimana dia berkomunikasi. Dalam hal ini, dalam hal menarik perhatian dari lawan jenis (atau sesama jenis untuk yang homoseksual). Setiap bangsa atau tradisi budaya, memiliki perbedaan dalam metode-metode flirting. Adapun, ada satu benang merah yang merajut semua perbedaan itu. Apakah itu? Mari kita bahas.

Bagaimana Flirting dengan Lawan Jenis?

Berbeda dengan keyakinan yang sudah beredar luas, hanya ada dua tipe manusia yang melakukan flirting: Pertama, mereka yang masih single, dan yang sudah menikah. Single melakukan flirting, karena mereka single, dan oleh karena itu tidak ada seorang pun yang berkewajiban untuk diskusi dengan mereka, tidur dengan mereka, atau sharing dengan mereka di rumah. Namun orang yang sudah menikah, mereka adalah teka teki yang agak rumit. Mereka sudah menemukan pasangan yang cocok, lalu memiliki kehidupan seks yang baik, dan memiliki keturunan. Mereka sudah melaksanakan tugas evolusi biologis mereka. Genom mereka akan bertahan.

Lalu, kenapa mereka tetap melakukan flirting? Satu hal yang pasti, flirting bukan hanya mengenai pembicaraan, namun juga gerakan tubuh, dan tatapan mata. Perhatikan bagaimana seseorang berhadapan dengan lawan jenis, dan mengangkat tumitnya? Perhatikan juga gerakan alis yang dibuat, yang di barengi dengan senyuman kecil, dan tatapan yang berkelanjutan? Ilmuwan menamakan aksi kecil ini sebagai ‘persiapan kontak’, sebab mereka merupaka indikasi non verbal, bahwa mereka sudah siap melakukan kontak fisik. Signal ini sangat penting, dari suatu proses inisiasi hubungan heterokseksual. Artinya, mereka adalah signal fisis, bahwa tidak ada maksud untuk mendominasi, atau melarikan diri. Signal tersebut adalah pesan potensial dimana lawan jenis harus berikan, sebelum fase berbicara yang rumit dimulai. Mereka adalah fase pembukaan.

Tidak Bisa Dihindari

Manusia diprogram untuk melakukan itu, secara biologis dan kultural. Bagian biologis flirting telah diselidiki oleh berbagai peneliti. Pakar Ethologi Eibl Eibesfeld, dari Institut Max Planck Jerman, membuat film dokumentasi mengenai suku-suku Afrika pada tahun 60an dan menemukan bahwa perempuan disana melakukan tatapan panjang yang diikuti dengan gerakan kepala, diikuti dengan senyuman kecil, seperti yang dilihat di Amerika. Ahli Biologi Evolusi menyarankan, bahwa individu yang melakukan manuver flirting dapat dipastikan akan mudah menemukan pasangan, dan melakukan reproduksi. Perilaku seperti ini yang akhirnya menyebar luas ke semua manusia.

‘Banyak orang merasa bahwa flirting adalah abgian dari bahasa universal terkait dengan cara kita berkomunikasi, terutama secara non verbal’, demikian kata Jeffry Simpson, direktur program psikologi sosial pada Universitas Minnesota. Simpson sekarang melakukan kajian pada peranan atraksi dan flirting mainkan pada berbagai fase waktu siklus ovulasi perempuan. Riset tersebut menemukan, bahwa perempuan yang sedang berovulasi jauh lebih atraktif bagi pria yang flirty. ‘Pria tersebut memiliki karakteristik yang menarik bagi perempuan, dan mereka atraktif dengan perilaku flirty tersebut’, demikian kata dia. Simpson tidak terlalu yakin mengapa perempuan berperilaku seperti ini, namun ternyata pria yang bercinta dengan perempuan yang berovulasi memiliki kesempatan besar untuk berprokreasi dan menurunkan gen flirty tersebut, yang berarti bahwa bayi tersebyt akan memiliki lebih banyak bayi dan seterusnya.

Tentu saja, ini bukanlah pilihan sadar, sebab flirting tidak harus dilakukan secara sadar. ‘ Dengan melakukan hal ini, terutama bagian non verbal, orang tidak sadar bahwa mereka melakukan hal itu’, demikian kata Simpson. ‘Anda tidak melihat seperti apa rupanya. Orang bisa saja memberikan gerakan flirting, dan tidak sadar bahwa gerakan tersebut sangat kuat.

Flirting dengan Tujuan

Salah satu poin, jika sudah bergerak ke fase verbal dari flirtation, dapat dipastikan bahwa itu memiliki maksud. Ada beberapa pemikiran yang mengajarkan, bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Flirtation adalah permainan yang kita mainkan, suatu gerakan dansa yang semua orang sudah tahu ke mana arahnya. ‘Orang bisa saja melakukan flirting tanpa memiliki maksud apa apa’, demikian kata peneliti seksologi Timothy Perper, yang sudah meneliti fenomena flirting selama 30 tahun. ‘flirting menangkap minat dari orang lain dan mengatakan ‘Apakah kamu mau bermain?’. Dan salah satu hal menarik dari permainan ini adalah, aturan normal dari interaksi sosial cenderung lentur. Kejelasan (’Clarity’) bukanlah poin utama. ‘ Flirting membuka jendel potensial, bukan iya, bukan juga tidak,’ demikian kata Perper. ‘Jadi kita terlibat dalam permainan kompleks dari ‘mungkin”.

Begitu kita sudah mempelajari permainan ‘mungkin’ ini, maka kita akan terbiasa. ‘Kita semua belajar aturan bagaimana untuk berperilaku di berbagai situasi, dan ini membuatnya mudah bagi orang untuk tahu bagaimana bertindak, bahkan ketika gugup,’ demikian kata Antonia Abbey, profesor psikologi pada Universitas Wayne State. Seperti juga kita belajar naskah bagaimana berperilaku yang baik di restoran atau pertemuan bisnis, kita juga mempelajari bagaimana berbicara dengan lawan jenis, demikian kata dia. ‘Kita sering membuat naskah pembicaraan ini tanpa berpikir’, demikian kata dia. ‘Bagi beberapa pria dan perempuan, naskah ini dapat dipelajari dengan baik, sehingga flirting menjadi strategi yang nyaman untuk berinterasi dengan orang lain’. Dengan kata lain, ketika kita ragu, kita melakukan fliriting.

Diterjemahkan secara bebas dari:

The Science of Romance: Why We Flirt - TIME http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1704684,…2

foto:mens7376.blogspot.com

0 comments: