Kamis, 27 November 2008

Etika Berbagi Informasi di Internet

by netsains.com

Sama dengan dunia nyata, dunia maya juga punya etika. Sayangnya tidak semua orang ingat untuk menjaga etika itu. Bahkan kedudukan dan pendidikan tinggi sekalipun tak menjamin orang bisa memegang etika. Sebuah kisah nyata ini semoga dapat mengingatkan kita akan etika berbagi informasi.

Setiap kali membuka email, ada beberapa surat masuk yang selalu bikin jengkel. Biasanya berisi iklan Viagra dan situs porno. Padahal tak sekalipun saya request newsletter atau minta dikirimi informasi semacam itu.

Kebetulan suatu hari saya ketemu di satu toko buku di Yogyakarta seorang teman lama yang kebetulan juga bekerja sebagai Web Developer di satu perusahaan besar di Surabaya. Setelah ngobrol sana sini dan bercerita banyak hal, cerita berujung pada spam yang sering masuk ke mailbox kami. Dan yang mengejutkan, ternyata teman saya itu mengalami pertentangan nurani antara etika dan perintah atasan.

Ceritanya tentang Sang Bos yang baru beberapa bulan punya email, itupun karena perusahaannya membeli domain dan ia tentu saja dapat jatah email. Si Bos ini menemukan bahwa ternyata email itu seperti surat menyurat biasa tetapi tidak butuh perangko.

Akhirnya Si Bos punya inisiatif mengumpulkan alamat email sebanyak mungkin. Alhasil karena Si Bos masih pemula, selama sebulan ia baru mendapat 150 alamat email. Akhirnya ia menyuruh bawahannya untuk mengumpulkan alamat email sebanyak mungkin, minimal 10.000 alamat email dalam waktu satu bulan.Selama sebulan, teman saya keluar masuk milis dan mengoleksi alamat email.

Bulan berikutnya Si Teman itu diminta untuk mengirimkan email berisi promosi dan tawaran untuk menggunakan produk baru perusahaannya kepada minimal 50.000 alamat email. Teman saya mencoba menjelaskan etika berkirim email dan bahayanya melayangkan spamming. Si Bos tak mau tahu dan memaksanya tetap melakukannya. Akhirnya dengan terpaksa teman saya mengirim email spam ke berpuluh ribu alamat email dan dengan sengaja menggunakan alamat email resmi Si Bos sebagai alamat sender. Alhasil bulan berikutnya Si Bos tak bisa berkirim email. Setiap ia mencoba mengirik email selalu dianggap spam atau virus.

Walau berkedudukan tinggi dan berpendidikan layak, agaknya Si Bos tidak mengenal apa yang disebut dengan etika di Internet. Ia tak paham bahwa dunia maya termasuk email memiliki aturan tersendiri. Sama dengan dunia nyata, Internet kendati dinikmati dengan gratis, tetap punya etika.

Etika dan Tips

Hal yang selayaknya diketahui tentang etika ber-email :

* Karena karakter email sama dengan surat konvensional, maka apabila anda baru pertama kali kontak dengan si pemilik email, usahakan untuk mengenalkan diri dan menjelaskan tujuan anda menghubungi si pemilik email.

* Gunakan bahasa yang baik dan cukup sopan untuk tahap introduksi karena kita harus paham bahwa email adalah sarana berkomunikasi yang sifatnya personal. Sehingga kata-kata tidak sopan bisa berakibat pada blocking alamat email Anda oleh si pemilik email yang Anda tuju.

* Kirimkan informasi yang tepat kepada orang yang tepat. Karena pengguna email akan menganggap spam semua email yang menurut dia tidak berguna dan tidak dia perlukan.

Dan jika nekad terus menerus melakukan spamming maka risikonya adalah:

* Alamat email anda akan diblocking oleh beberapa mail server

* Domain Anda akan dianggap sebagai penyebar spam, dan apabila ini adalah domain perusahaan. e-Branding anda akan turun drastis karena terkenal sebagai spammer kelas kakap.

* Seluruh account email di domain yang sama akan dianggap sebagai spam. Perlu diketahui ada perusahaan yang secara khusus memberikan layanan anti spamming.

Maka berikut beberapa tips aman beriklan di Internet :

* Gunakan link exchange dan banner exchange, ada yang bayar ada yang tak berbayar

* Gunakan fasilitas newsletter

* Gunakan fitur RSS

Ketiga cara ini mungkin tidak se-massive spamming, tetapi Anda akan tetap jadi orang yang terhormat di dunia maya ini. Dan bagi beberapa perusahaan yang terkait dengan bidang IT, e-branding jauh lebih penting dibanding conventional branding.

0 comments: